We're just visitors

At the end of the game, the King and the Pawn goes into the same box

Sahih Bukhari: Kitab Puasa: Mandi bagi orang yang berpuasa August 3, 2012

Filed under: Hadith,Kitab Puasa — visitor74 @ 12:29 am
Tags: , ,
Bab 22: Orang yang Puasa Pagi-Pagi dalam Keadaan Junub (Menanggung Hadats Besar)
Abu Bakar bin Abdur Rahman berkata, “Saya dan ayah ketika menemui Aisyah dan Ummu Salamah. (Dalam satu riwayat: dari Abu Bakar bin Abdur Rahman, bahwa al-Harits bin Hisyam bahwa ayahnya Abdur Rahman memberitahukan kepada Marwan) Aisyah dan Ummu Salamah memberitahukan bahwa Rasulullah pernah memasuki waktu fajar sedang beliau dalam keadaan junub setelah melakukan hubungan dengan isterinya, bukan karena mimpi. Kemudian beliau mandi dan berpuasa.” Marwan berkata kepada Abdur Rahman bin Harits, “Aku bersumpah dengan nama Allah, bahwa engkau harus mengkonfirmasikannya kepada Abu Hurairah.” Marwan pada waktu itu sedang berada di Madinah. Abu Bakar berkata, “Abdur Rahman tidak menyukai hal itu. Kemudian kami ditakdirkan bertemu di Dzul Hulaifah, dan Abu Hurairah mempunyai tanah di sana. Lalu Abdur Rahman berkata kepada Abu Hurairah, ‘Saya akan menyampaikan kepadamu suatu hal, yang seandainya Marwan tidak bersumpah kepadaku mengenai hal ini, niscaya saya tidak akan mengemukakannya kepadamu.’ Lalu, Abdur Rahman menyebutkan perkataan Aisyah dan Ummu Salamah. Kemudian Abu Hurairah berkata, ‘Demikian pula yang diinformasikan al-Fadhl bin Abbas kepadaku, sedangkan mereka (istri-istri Rasulullah) lebih mengetahui tentang hal ini.'”
Syarah: hadith ini memberi kita hukum bahawa kalau kita di dalam hadas besar, dan kita tidak sempat mandi hadas, walaupun sudah habis waktu sahur atau sudah masuk waktu subuh, puasa kita masih lagi sah.
Bab 25: Mandinya Orang yang Berpuasa

Ibnu Umar r.a. pernah membasahi pakaiannya lalu mengenakannya, sedangkan dia berpuasa (karena kehausan).Asy-Sya’bi pernah masuk pemandian, sedangkan dia berpuasa.

Ibnu Abbas berkata, ‘Tidak mengapa seseorang mencicipi makanan atau sesuatu di periuk (dengan tidak menelannya).”

Al-Hasan berkata, “Tidak mengapa orang yang berpuasa berkumur-kumur dan mendinginkan badan.”

Ibnu Mas’ud berkata, “Jika salah seorang di antara kamu berpuasa, maka hendaklah pada pagi harinya ia dalam keadaan berharum-haruman serta rambut yang tersisir rapi.”

Anas berkata, “Saya mempunyai telaga dan saya suka menceburkan diri di dalamnya, sedang saya saat itu sedang berpuasa.”

Disebutkan dari Nabi صلی الله عليه وسلم bahwa beliau menggosok giginya dengan siwak, sedangkan beliau pada saat itu berpuasa.

Ibnu Umar berkata, “Orang yang berpuasa boleh bersiwak pada permulaan hari dan akhir hari (yakni pada pagi hari dan sore hari) dan tidak boleh menelan ludahnya.”

Atha’ berkata, “Jika ia menelan ludahnya, saya tidak mengatakan bahwa puasanya batal.”

Ibnu Sirin berkata, “Tidak mengapa seseorang yang berpuasa bersiwak dengan menggunakan siwak yang basah.” Ibnu Sirin ditanya, “Jika siwak yang dipergunakan itu ada rasanya, bagaimana?” Ia menjawab, “Air pun ada rasa nya, dan engkau berkumur-kumur dengan air pula.”

Anas, Hasan, dan Ibrahim berpendapat bahwa orang yang berpuasa tidak terlarang memakai celak.

Syarah: Kita sudah biasa dengar di Malaysia ini kalau kita mandi jikalau berpuasa, ianya adalah makruh, atau kurang pahala puasa itu. Tapi dalam hadith ini, kita boleh lihat bagaimana Nabi pun ada yang tidak tahan dengan kehausan puasa, maka mereka telah membasahi pakaian mereka, dan ada yang sampai berendam dalam telaga mereka. Itu adalah untuk menyejukkan tubuh mereka. Maka, tidaklah salah kalau kita hendak mandi jikalau di dalam puasa tidak kira waktu manapun.

Dan kepada wanita yang memasak, dibenarkan untuk merasa makanan itu semasa memasaknya. Cuma jangan telan sahaja.

Dan elok untuk orang yang berpuasa lebih-lebih lagi kalau puasa sunat, untuk berharuman dan merapikan rambut. Ini adalah supaya orang tidak tahu bahawa dia sedang berpuasa. Kerana ibadat puasa ini tidak nampak macam ibadat yang lain, maka janganlah kita tunjukkan pula kepada orang lain kerana ditakuti akan menyebabkan kita riak pula nanti.

Tidak juga salah untuk menggosok gigi atau mengguna siwak bila-bila masapun. Dalam masyarakat kita ada mengatakan yang kalau nak gosok gigi, cuma waktu pagi sahaja. Kerana mereka hendak mengekalkan bau mulut yang busuk itu agaknya. Tapi Nabi tidak pernah melarang sebegitu. Nabi pernah mengatakan eloknya untuk bersiwak, dan tidak menyebut bahawa siwak itu tidak boleh dilakukan di dalam bulan puasa. Jadi, kita akan ambil secara general, maka dibolehkan untuk bersiwak atau menggosok gigi.  Tidak kira waktu manapun.

Tidak juga salah untuk menelan ludah. Janganlah jadi macam budak-budak dulu yang sampai takut nak telan ludah pun, sampai mereka meludah merata-rata.

Bab 26: Orang yang Berpuasa Jika Makan atau Minum karena Lupa
Atha’ berkata, “Jika seseorang memasukkan air ke hidung dan hendak menyemprotkannya, lalu airnya ada yang masuk ke dalam tenggorokannya, maka puasanya tidak batal, jika ia tidak mampu menolaknya.”
Hasan berkata, “Manakala tenggorokan orang yang berpuasa itu kemasukan lalat, maka puasanya tidak batal.”

Hasan dan Mujahid berkata, “Jika orang yang berpuasa itu bersetubuh karena lupa, maka puasanya tidak batal.”
Abu Hurairah رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, “Apabila (orang yang berpuasa) lupa, lalu ia makan dan minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya. Karena sesungguhnya Allah memberinya makan dan minum.”

Bab 27: Menggunakan Siwak Yang Basah dan Kering untuk Orang yang Berpuasa
Amir bin Rabi’ah berkata, “Saya melihat Nabi bersiwak dan beliau pada saat itu sedang berpuasa. Karena seringnya, maka saya tidak dapat membilang dan menghitungnya.”
Abu Hurairah رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, “Andaikan tidak memberatkan umatku, niscaya mereka kuperintahkan bersiwak pada setiap kali berwudhu.”
Riwayat serupa disebutkan dari Jabir dan Zaid bin Khalid dari Nabi, dan beliau tidak mengkhususkan orang yang berpuasa dari lainnya.
Aisyah mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, “Bersiwak itu menyucikan mulut dan menyebabkan keridhaan Tuhan.”
Atha’ dan Qatadah berkata, “Orang yang berpuasa boleh menelan ludahnya.”

syarah: jadi tidaklah salah jikalau menggunakan siwak walaupun jikalau kita berpuasa.

 

Kuliah Maulana Asri boleh didapati di sini

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s