We're just visitors

At the end of the game, the King and the Pawn goes into the same box

Sahih Bukhari: Kitab Puasa: Melihat Anak Bulan (dan lain-lain) August 1, 2012

Filed under: Hadith,Kitab Puasa — visitor74 @ 1:03 pm
Sabda Nabi, “Apabila kamu sudah melihat bulan sabit (1 Ramadhan), maka berpuasalah. Apabila kamu sudah melihat bulan sabit (1 Syawwal), maka berbukalah (jangan berpuasa).”

Shilah berkata dari Ammar, “Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang meragukan, maka sesungguhnya dia telah melanggar ajaran Abul Qasim (Nabi).”

Abdullah bin Umar رضي الله عنه mengatakan bahwa Rasulullah pernah berbicara perihal Ramadhan. Beliau bersabda, “Sebulan itu dua puluh sembilan malam. (Dalam satu riwayat: ‘Sebulan itu seperti ini dan ini’, dan beliau menggenggam ibu jarinya pada kali yang ketiga. Dalam riwayat lain: ‘Sebulan itu seperti ini dan seperti ini dan seperti ini’, yakni tiga puluh hari. Kemudian beliau bersabda, ‘Seperti ini dan seperti ini dan seperti ini”, yakni dua puluh sembilan hari. Beliau bersabda sekali tiga puluh hari, dan sekali dua puluh sembilan hari). Maka, janganlah kamu berpuasa sehingga kamu melihat bulan sabit (tanggal 1 Ramadhan), dan janganlah kamu berbuka sehingga kamu melihatnya (tanggal 1 Syawal). Jika bulan itu tertutup atasmu, kirakanlah bilangannya (buatlah perhitungan bagi harinya).” (Dan dalam satu riwayat: “Maka, sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban tiga puluh hari.”)
Abu Hurairah رضي الله عنه berkata, “Nabi (Abul Qasim) bersabda, ‘Berpuasalah bila kamu melihatnya (bulan sabit tanggal satu Ramadhan), dan berbukalah bila kamu melihatnya (bulan sabit tanggal 1 Syawal). Jika bulan itu tertutup atasmu, maka sempurnakanlah bilangan Syaban tiga puluh hari.'”
Ummu Salamah رضي الله عنها mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم meng-ila’ sebagian istri beliau (dalam satu riwayat: bersumpah tidak akan mencampuri sebagian istri beliau) selama satu bulan. Ketika telah lewat dua puluh sembilan hari, beliau pergi kepada mereka pada waktu pagi atau sore. Maka, dikatakan kepada beliau, “(Wahai Nabiyyullah), sesungguhnya engkau bersumpah tidak akan memasuki (mereka) selama satu bulan?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya satu bulan itu dua puluh sembilan hari.”

Syarah: Dalam hadith-hadith ini dikatakan bahawa kadang-kadang sebulan itu adalah dalam 29 hari dan kadang-kadang 30 hari. Penentuannya adalah kena dilihat anak bulan.

Permasalahan sekarang adalah berkenaan dengan puasa pada hari syak. Ini adalah hari di mana kita tidak pasti samada esok adalah 1 syawal ataupun 30 Syaaban. Tidak dapat dipastikan kerana tidak nampak anak bulan dan tak nampak itu sebab terlindung oleh awan. Kalau tiada awan, dan masih tidak nampak anak bulan, itu bukan dipanggil hari syak lagi sebab tidak syak lagi ianya adalah esok 30 syaaban.

——————————–

Bab 12: Dua Bulan Hari Raya Itu Tidak Berkurang
Abu Abdillah (Imam Bukhari) berkata, “Ishaq berkata, ‘Jika ia kurang, maka ia sempurna.'”
Muhammad berkata, “Kedua bulan itu tentu tidak sama, mesti ada yang kurang.”
Abu Bakrah رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, “Dua bulan tidak berkurang (secara bersamaan), yaitu dua bulan hari raya, yaitu Ramadhan dan Dzulhijjah.”—————————–

Bab 13: Sabda Nabi, “Kami tidak dapat menulis dan menghisab (menghitung) bulan).”
Ibnu Umar رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, “Sesungguhya kami adalah umat yang ummi, tidak dapat menulis dan menghisab (menghitung bulan). Sebulan itu demikian dan demikian, yakni sekali waktu dua puluh sembilan hari, dan sekali waktu tiga puluh hari.”
——————————
Bab 14: Tidak Boleh Mendahului Bulan Ramadhan dengan Puasa Sehari atau Dua Hari
Abu Hurairah رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, “Jangan sekali-kali seseorang dari kamu mendahului bulan Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali seseorang yang biasa berpuasa, maka berpuasalah hari itu.”
Syarah: maknanya janganlah berpuasa bila dah dekat-dekat nak Ramadhan. Terutama sekali hari syak. Kerana ini telah diberitahu oleh Nabi. Yang dikatakan seseorang yang biasa berpuasa itu adalah jikalau dia selalu mengamalkan puasa seperti puasa Nabi Daud, sehari puasa, sehari tidak. Ataupun ada pada zaman Nabi dulu, dia sudah biasa berpuasa pada bulan Syaaban. Maka dibenarkan.
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s